Implikasi Teori Konstruktivisme

Proses pembelajaran dapat terlaksana secara efektif, efisien dan optimal jika didukung oleh pengetahuan yang memadai tenang teori-teori pendidikan yang berlaku secara umum. Dengan demikian, kajian terhadap teori-teori pendidikan memiliki urgensi yang signifikan, sebagai upaya memperkaya wawasan kependidikan terutama bagi para guru dan praktisi pendidikan pada umumnya. Hal ini dimaksudkan untuk mencari landasan teoritis yang variatif, cocok, dan berdaya guna dalam pelaksanaan pendidikan. Terselenggaranya suatu pendidikan tentunya tidak terlepas dari sebuah teori yang mendasarinya. Dalam dunia pendidikan sampai pada saat ini telah menganut berbagai macam teori pendidikan. Salah satu teori yang melandasi proses pembelajaran adalah teori konstruktivisme. Pandangan konstruktivisme tentang pembentukan pengetahuan adalah subjek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksi dengan lingkungannya. von Glaserfeld menyatakan bahwa kontruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (Pannen dkk, 2001). Menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri dengan adanya bantuan struktur-struktur kognitif. Melalui bantuan strukturstruktur kognitif ini, subjek menyusun pengertian realitasnya. Dalam teori ini, struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi. Konsep

Pada saat peserta didik memberikan jawaban, pendidik mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun pendidik mendorong peserta didiknya untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal peserta didik itu sendiri (Suherman, 2003). Sehingga kita dapat menyatakan bahwa konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain. Aliran ini lebih menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar. Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa (Tim MKPBM UPI, 2001). Berkenaan dengan hal tersebut, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya (Setyosari, 1997). Kegiatan inilah yang dapat memberikan pengalaman berlajar bagi siswa sehingga siswa mampu mengingat pengetahuan yang didapatnya lebih lama dari pada belajar yang dilakukan dengan menghafal. Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999) adalah sebagai berikut: a. Tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi; b. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari; dan c. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

BACA JUGA  Download Buku PLH SMP/MTs

Baca Juga : Implikasi Konstuktifme

implikasi teori konstruktisme

Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999) adalah sebagai berikut:

a. Tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi;

b. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari; dan

c. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

Implikasi Teori Belajar Konstruktivisme dalam Pembelajaran Matematika

Fokus utama dari belajar metematika adalah memberdayakan siswa untuk berpikir dalam mengkonstruksi pengetahuan matematika yang pernah ditemukan para ahli, bukan menjalankan pengetahuan prosedural yang telah ditemukan oleh para ahli matematika sebelumnya. Dengan kata lain dari sudut pandang konstruktivis, Koehler and Grouws (TIM MKPBM UPI, 2001) menyatakan bahwa pembelajaran telah dipandang sebagai suatu kontinum antara negosiasi dan imposition pada ujung-ujungnya. Seseorang yang memandang bahwa belajar adalah suatu transmisi, maka proses mengetahui akan mengikuti model imposition (pembebanan). Sedangkan yang berpandangan bahwa mengajar adalah suatu proses yang memfasilitasi suatu konstruksi, maka ia akan mengikuti model negosiasi. Imposition dan negosiasi ini merupakan dua hal yang berbeda dan sama pentingnya. Dimana proses imposition berguna bagi guru dalam mengkomunikasikan simbol-simbol sederhana dalam matematika sementara negosiasi berguna bagi guru dalam mengkomunikasi-kan matematika sebagai suatu konsep. Selanjutnya dalam tahap implementasi pembelajaran matematika dengan konstruktivis, kita harus memahami aspek-aspek pembelajaran matematika yang berlandaskan teori konstruktivisme. Berkenaan dengan hal itu, Hanbury (1996) mengemukakan sejumlah aspek yang berkaitan dengan pembelajaran matematika, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) matematika menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih dinilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. Berdasarkan aspek-aspek tersebut, maka semaksimal mungkin implementasi konstruktivisme dalam pembelajaran matematika harus dimulai dari pendidikan dasar bagi anak. Driver dan Bell (Susan, Marilyn dan Tony, 1995) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *